Jumat, 14 Desember 2012

Pakaian Loreng ‘Darah Mengalir’




Kesko TT.III/Siliwangi yang merupakan cikal bakal satuan ini, lahir ditengah berbagai keterbatasan baik sarana maupun prasarananya. Meskipun disiapkan dan akan menyandang predikat sebagai satuan khusus, Kesko TT.III/Siliwangi hanya menempati kantor di salah satu bagian Markas Depot Batalyon, demikian juga halnya dengan pakaian seragam bagi prajurit-prajurit satuan. Berkenaan dengan selesainya pendidikan bagi calon-calon prajurit Kesko TT.III/Siliwangi, untuk melengkapi badge tanda kualifikasi dari prajurit-prajurit lulusan pendidikan komando, kemudian diberikan pembagian pakaian seragam loreng dengan corak khusus yang akhirnya dikenal dengan sebutan seragam loreng ‘Macan Tutul.’ Aslinya, pakaian loreng tersebut adalah buatan Amerika yang diproduksi pada masa PD-II dalam jumlah sangat besar untuk digunakan pasukan marinirnya (U.S. Marines). Pakaian itu dirancang untuk memiliki fungsi ganda, pada bagian sisi yang satu coraknya dominan berwarna coklat untuk dipakai dalam operasi pendaratan pantai, sedangkan bagian sebaliknya memiliki corak yang dominan berwarna hijau untuk digunakan dalam operasi di hutan. Dalam prakteknya, seragam ini ternyata susah untuk dipakai secara bolak-balik sesuai harapan dalam medan pertempuran yang sedemikian panas, apalagi saat menghadapi wabah (diare/disenteri/cholera) yang sering berjangkit dalam pertempuran di daerah tropis. Seiring dengan berakhirnya PD-II, pakaian seragam ini diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang pada akhirnya diberikan kepada angkatan perang Indonesia kaitannya dengan kemerdekaan RI. Pakaian inilah yang kemudian dibagikan sebagai seragam khusus prajurit-prajurit satuan Komando. Pakaian loreng Macan Tutul ini cukup terkenal sebagai ciri khas prajurit prajuritBaret Merah, utamanya di kalangan masyarakat Jawa Barat, kaitannya dengan berbagai operasi yang dilakukan satuan komando ini dalam rangka menumpas gerombolan DI/TII. Beberapa tahun kemudian, dengan semakin berkurangnya persediaan pakaian loreng Macan Tutul yang sudah tidak diproduksi lagi di negara asalnya, kemudian dilakukan upaya untuk membuat sendiri pakaian seragam khusus bagi prajuritprajurit Baret Merah. Adalah Kolonel Inf Moeng Parhadimoeljo, Komandan Menparkoad, yang kemudian menyetujui penggunaan pakaian seragam yang dirancang dengan corak khusus yang khas dan kemudian dikenal dengan nama loreng ‘Darah Mengalir.’ Pakaian loreng baru itu secara resmi diperkenalkan kepada publik untuk pertama kali pada acara parade dan defile pasukan di lapangan parkir Senayan dalam HUT Angkatan Bersenjata tanggal 5 Oktober 1964. Pada saat itu pula prajurit-prajurit Menparkoad tampil tanpa penutup kepala Baret Merah yang menjadi ciri khasnya, tapi menggunakan topi laken loreng dengan corak yang sama dengan seragamnya. Berbeda dengan pakaian seragam loreng yang menjadi pakaian resmi menggantikan loreng Macan Tutul, topi laken loreng tidak jadi diberlakukan sebagai tutup kepala resmi satuan ini yang sudah sedemikian lekatnya dengan predikat sebagai satuan Baret Merah. Akan tetapi topi laken loreng itu sempat menjadi terkenal saat digunakan prajurit-prajurit satuan ini melaksanakan penugasan operasi di Kalimantan dalam rangka penumpasan PGRS/ Paraku serta penugasan di Timor Timur pada awal integrasi wilayah ini ke Indonesia. Prajurit-prajurit satuan ini pernah pula mengenakan pakaian seragam yang unik yaitu kombinasi dari baju loreng (Darah Mengalir) dengan celana hijau, dan sempat menjadi suatu trend tidak hanya di lingkungan Baret Merah namun juga merambah di satuan-satuan lain. Model pakaian seperti itu sebenarnya terjadi secara kebetulan, yang berkaitan dengan pemulangan secara mendadak prajurit-prajurit Menparkoad yang sedang penugasan operasi ke daerah-daerah (Kalimantan, Irian dll) akibat terjadinya peristiwa G.30.S/PKI. Ditengah situasi yang sedemikian mendesak, prajurit-prajurit Baret Merah yang baru kembali dari tugas itu langsung diterjunkan ke lapangan tanpa sempat membongkar perlengkapannya sehingga hanya tampil dengan memakai pakaian seragam seadanya yaitu baju loreng darah mengalir dengan celana hijau. Seiring dengan berlangsungnya kebijakan reorganisasi satuan-satuan di jajaran angkatan darat untuk mewujudkan postur kecil, efektif, efisien dan profesional, yang kemudian merubah Kopassandha menjadi Kopassus melalui reorganisasi satuan tahun 1985, penggunaan pakaian seragam khusus loreng Darah Mengalir bagi satuan ini pun dihapuskan. Prajuritprajurit Baret Merah menggunakan pakaian seragam loreng dengan corak yang sama dengan satuan-satuan lainnya di jajaran TNI, yang digunakan hingga saat ini. Pada tahun 1992, dirintis upaya agar penggunaan seragam khusus loreng darah mengalir diberlakukan lagi bagi satuan Kopassus dengan mempertimbangkan kepentingan pembinaan Korps. Usulan tersebut kemudian mendapat persetujuan dari Komando Atas dengan kebijakan bahwa penggunaannya terbatas pada acara-acara tradisi dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam intern satuan, sedangkan pakaian dinas lapangan yang resmi tetap menggunakan pakaian seragam loreng TNI. Atas dasar persetujuan tersebut, pakaian seragam loreng Darah Mengalir diproduksi kembali dengan corak yang telah disempurnakan, dan sejak tahun 1992 mulai digunakan oleh prajurit-prajurit.
Disalin dari Sejarah Kopassus BAB 1-3.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar